Histats

Jam

  • This is Slide 1 Title

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words.

  • This is Slide 2 Title

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words.

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words.

Selasa, 27 Februari 2018

Alat dan Bahan yang Digunakan untuk Membuat Gula Merah di Dusun Lekke

Selamat Datang di Blog Dusun Lekke

Bahan yang digunakan untuk membuat gula merah adalah tuak dari pohon aren dan biasanya memakai Buli Carung. Di dusun Lekke tidak memakai tuak selain tuak aren seperti halnya daerah lain. Tuak aren dan campur Buli Carung termasuk alami. Bahkan serbuk kemiri pun digunakan ketika tuak sudah hampir matang untuk menghindari meluapnya tuak akibat busa berlebihan.

Pembuatan gula merah terkadang ada yang aneh akibat kemajuan pengetahuan seperti halnya penggunaan sabun Rinso sebagai pengganti Buli Carung. Sabun Rinso fungsinya untuk mencuci malah disalahgunakan untuk tuak dan pembuatnya tidak memikirkan akibatnya yaitu penyakit tapi lebih memikirkan uangnya.

Alat-alat yang Digunakan Membuat Gula Merah

1. Pammuttu (kuali)
2. Pakkeri (semacam pacul ukuran kecil)
3. Paggaru (pengaduk yang terbuat dari kayu)
4. Timbolo/alat cetak (potongan tulang kelapa yang bawahnya dilubangi)
5. PEpeng (alat cetak terbuat dari kayu)
6. Timpo (bambu yang menampung tuak dipohon aren)
7. Simpa (semacam timba yang terbuat dari Kaddaro Bila)
8. Balombong (dapur)

Hala - Hal yang Dilarang di Bujung LompoE dan Sekitarnya

Selamat Datang di Blog Dusun Lekke, Silahkan Tinggalkan Komentar yang Sifatnya Membangun!

Adapun hal-hal yang dilarang di Bujung LompoE adalah sebagai sebagai berikut:

1. Tidak diperbolehkan naik di atas sumur sepanjang hutang yang ada.

2. Tidak boleh menggunakan timbah selain Kaddaro Kaluku dan Bila.

3. Tidak boleh mencuci kotoran haid/nipas.

4. Tidak boleh pakai sabun di dekat sumur.

5. Tidak boleh cebo dekat sumur.

Hal-hal yang terjadi pada saat ini.

Banyak masyarakat mengatakan bahwa meningkatnya jumlah orang yang berpendidikan pada saat ini mengancam hilangnya tradisi warisan nenek moyang. Namun kalau dilihat keadaan Bujung LompoE, sebagian masyarakat yang bukan dari kaum terpelajar sedikit demi sedikit mengikis area terlarang Bujung LompoE utamnya samping kiri atas dan kanan semakin dipersempit untuk digunakan lahan pertanian. Bahkan rumah pun ada yang dibangun tepat diatas area terlarang tersebut dan kayu yang menjulang tinggi keatas berusaha dimatikan demi kepentingan pribadi.

Lebah (arinong)
Penghasil madu yang ada di Dusun Lekke
🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝

Bujung LompoE di Birue

Bujung LompoE adalah sumur yang bersejarah di Birue. Bujung LompoE pada awalnya bagus penataanya karena bentuknya sudah didesain sehingga kelihatan agak mewah pada saat itu. 

Sebelum terjadi tanah longsor, Bujung LompoE mempunyai lantai depan dan samping kiri-kanan yang sangat luas yang digunakan masyarakat untuk mencuci. Selain itu, sumur sersebut juga mempunyai atap yang bisa digunakan berteduh ketikan hujan. Bisa dikatakan bahwa Bujung LompoE adalah sumur mewah pada masa sekitar tahun 1995 karena terbuat dari bahan semen dimana pada saat itu belum ada rumah yang menggunakan semen. Namun sekitar 1995 bentuknya tidak lagi seperti dahulu karena terjadi tanah longsor tepat pada bagian atas sumur tersebut sehingga sumur tersebut terkubur dan tidak terlihat lagi. Namun beberapa waktu kemudian, masyarakat berusaha menggali kembali agar sumur tersebut bisa kelihatan dan terpakai lagi.

Sumur tersebut sudah kelihatan pada saat ini namun tidak tampak seperti dulu lagi karena dulunya ada yang dinamakan Ulu Bujung (kepala sumur) dan Indo Bujung (mama sumur). Ulu Bujung adalah tempat kaluarnya air dari tanah dan tidak bisa diambil airnya secara langsung. Namun ketika air sudah turung ke Indo Bujung, maka barulah bisa diambil airnya. Pada saat ini, kepala sumur saja digunakan karena mama sumur masi terkubur dengan tanah longsor.

Terkuburnya Bujung Lompoe oleh tanah longsor dipercayai oleh masyarakat bahwa yang menyebabkan hal itu terjadi karena masyarakat setempat tidak mentaati aturan yang berlaku seperti tidak diperbolehkan menggunakan timbah yang terbuat dari plastik atau bahan lainya kecuali dari bahan alam yang berupa Kaddaro Kaluku dan Bila. 

Bujung LompoE dulunya sumur yang merupakan sumber air yang sangat dibutuhkan masyarakat yang ada di BiruE sebelum adanya pipa air dari bantuan pemerintah setempat. Bahkan masyarakat di Babang Rilau atau Lebba'E selalu berbondong-bondong untuk mengambil air di tempat tersebut ketika musim kemarau. Bisa dikatakan bahwa Bujung LompoE adalah satu-satunya sumur yang dianggap bersih airnya daripada sumur lainnya.
Bujung LompoE tidak pernah kering walaupun musim kemarau panjang melanda.

Ketika musim kamarau, masyarakat antri untuk mengbil air dengan cara berdasarkan urutan kedatangan mereka. Misalnya, jika si A datang dulun daripada si B, maka si A berhak mengambil air terlebih dahulu. Hal ini dilakukan karena air akan habis ketika banyak orang yang mengabilnya. Jadi harus menunggu beberapa menit lagi baru bisa diambil lagi.



Arelle (jagun)
Merupakan tumbuhan 
yang dilestarikan
di Dusun Lekke

🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽🌽

Adat Istiaadat Dusun Lekke

1. Mangngade

2. Mabbakang

3. Mattampung

4. Mappasoro-Soro

5. Mabaca-Baca

6. Mattoana Ase (padi)

Nama Kampung di Dusun Lekke

Di dusun Lekke, terdapat beberapa kampung yaitu:

1. Wangi-Wangi

2. Lebba'E

3. BiruE

4. Riattang Kaleppe

5. LabocE

6. Angkangi


  Terima Kasih atas Kunjungan Anda di Blog Dusun Lekke, sekali lagi terima Kasih Maega.

Bujung LompoE (sumur besar) BiruE

Salahsatu sumur yang dianggap suci di BiruE adalah Bujung LompoE (sumur besar). Dilihat dari namanya, Bujung LompoE sesuai dengan namanya yaitu sumur besar karena memang ukurannya besar.

Di sekitar Bujung LompoE, terdapat 6 sumur lainnya yaitu Bujung keru-keru berada paling ujung bagian utara, Bujung Kenrang yang ukurannya agak lebih besar daripada Bujung Keru-Keru, Bujung Tengnga yang terdapat di bebatuan. Sedangkan tiga sumur lainnya tidak diketahui oleh penulis karena memang sumur tersebut sudah tidak terlihat lagi. Akan tetapi, setiap satu tahun sekali, tiga sumur tersebut dibuat seperti halnya sumur pada saat Mabbaja Bujung (membersihkan sumur)



Terima Kasih Telah Berkunjung di Blog Dusun Lekke

Masjid Nurjannah BiruE

Selamat Datang di Blog Masjid Nurul Jannah Birue Dusun Lekke


Arti Masjid Nurul Jannah

Masjid Nurul Jannah mempunyai arti yang mungkin masyarakat dusun Lekke tidak sampai 2% mengetahuinya. Masjid Nurul Jannah terdiri dari dua kata yaitu Nurul dan Jannah. Nurul artinya cahaya dan Jannah artinya Surga. Jadi, Nurul Jannah mempunyai arti Cahaya Surga.

Letak Masjid Nurul Jannah

Mesjid Nurul Jannah Birue Dusun Lekke terletak di Pakka Laleng. Masjid Nurul Jannah menempati tempat yang cukup strategis karena berada di tengah-tengah dusun Lekke dimana letaknya berada dekat persimpangan jalan dusun Lekke ke Mattampa Walie, dusun Lekke ke Tellu Limpoe dan dusun Lekke ke Panasae/Tonronge.

Sejarah Masjid Nurul Jannah Birue Dusun Lekke

Berbicara dengan sejarah masjid Nurul Jannah, mungkin penulis bukanlah orang yang tepat untuk menceritaknnya karena penulis sendiri tidak mengetahui banyak tentang masjid tersebut dikarenakan penulis termasuk dalam kategori pemuda yang belum lahir pada saat pendirian masjid tersebut. Namun tujuan penulis untuk menulisnya agar masjid mempunyai catatan tersendiri bagi masyarakat dusun Lekke untuk ke depannya.

Menurut catatan yang tertulis di Sistem Informasi Masjid (SIMAS), Masjid Nurul Jannah didirikan pada tahun 1965. Awal penggunaan masjid tersebut masi menggunakan daun aren pada dindingnya.

Menurut ibu penulis yang bernama Mode Binti Paddahu mengatakan bahwa "ada suatu masa ketika masyarakat sedang melaksanakan sholat tarwih, tiba-tiba kaum wanita diganggu oleh laki-laki nakal yang tidak melaksanakan sholat tarwih dengan cara menarik mukena si wanita yang sedang melaksanakan sholat tarwih. Gangguan tersebut lebih mudah dilakukan oleh kaum pria karena dinding masjid tersebut menggunakan daun aren yang pada dasarnya sangat mudah dirobohkan.

Profil Masjid Nurul Jannah

Masjid Nurul Jannah memiliki nomor ID 01.4.26.08.12.000026, luas tanah 250 meter persegi, status tanah : wakaf dan luas bangunan 247 m persegi. Sumber: SIMAS

Kunjungi Facebook Syah Rullah